Minggu, 30 Agustus 2026
Minggu Biasa XXII
Bacaan I: Yeremia 20:7–9
Mazmur: Mazmur 63:2–4, 5–6, 8–9
Bacaan II: Roma 12:1–2
Bacaan Injil: Matius 16:21–27
📖 Sabda yang menyentuh
«“Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal diri, memikul salibnya dan mengikuti Aku.”
(Matius 16:24)»
Ada kalanya kita ingin mengikuti Tuhan, tetapi berharap jalan yang diberikan-Nya selalu mudah. Kita berdoa agar masalah segera selesai. Kita berharap keadaan berubah. Kita ingin jalan di depan kita menjadi jelas dan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Namun Sabda Tuhan hari ini mengajak kita berhenti sejenak. Mungkin bukan jalan Tuhan yang perlu diubah. Mungkin hati kita yang perlu diubah agar mampu berjalan di jalan Tuhan.
🕊️ Dalam perjalanan bersama Sabda
Bacaan pertama memperlihatkan pergumulan Nabi Yeremia. Ia telah menjalankan panggilan Tuhan, tetapi jalan yang ditempuhnya tidak mudah. Ada tekanan dan penderitaan. Namun Sabda Tuhan tetap menyala dalam hatinya seperti api yang tidak dapat dipadamkan. Yeremia mengajarkan bahwa setia kepada Tuhan tidak berarti hidup selalu bebas dari pergumulan. Ada saat ketika kita merasa lelah. Ada saat ketika kita bertanya mengapa sesuatu harus terjadi. Ada saat ketika kita merasa bahwa apa yang kita jalani terlalu berat. Tetapi justru dalam keadaan seperti itu, Sabda Tuhan tetap mengajak kita untuk bertahan dan percaya. Kemudian Mazmur membawa kita lebih dalam.
«“Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau.”»
Ketika hidup terasa berat, pemazmur tidak pertama-tama mencari jalan keluar. Ia mencari Tuhan. Bukankah sering kali kita melakukan yang sebaliknya?Ketika menghadapi masalah, kita sibuk mencari cara agar masalah itu segera hilang. Kita meminta Tuhan mengubah keadaan, tetapi mungkin lupa meminta agar Tuhan tetap tinggal dan berjalan bersama kita di tengah keadaan tersebut. Mazmur hari ini mengingatkan: Yang paling kita butuhkan bukan hanya pertolongan Tuhan, tetapi Tuhan sendiri. Lalu Rasul Paulus dalam surat kepada jemaat di Roma memberikan langkah berikutnya: “Berubahlah oleh pembaharuan budimu.” Kita diajak mempersembahkan hidup kepada Allah dan membiarkan Tuhan membarui cara berpikir kita. Sebab terkadang persoalannya bukan karena Tuhan tidak menunjukkan jalan. Kita yang belum siap menerima jalan yang Tuhan tunjukkan. Kita mempunyai rencana sendiri. Kita mempunyai keinginan sendiri. Kita bahkan kadang sudah menentukan bagaimana Tuhan seharusnya menjawab doa kita. Di sinilah Injil hari ini menjadi sangat kuat.
Petrus tidak dapat menerima ketika Yesus berbicara tentang penderitaan dan salib. Ia menginginkan jalan yang berbeda bagi Gurunya. Tetapi Yesus menunjukkan bahwa jalan Allah tidak selalu sama dengan jalan yang menurut manusia paling mudah. “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal diri, memikul salibnya dan mengikuti Aku.” Memikul salib bukan berarti mencari penderitaan. Memikul salib berarti tetap memilih untuk berjalan bersama Kristus ketika jalan yang harus ditempuh tidak sesuai dengan keinginan kita. Salib dapat hadir dalam banyak bentuk. Dalam tanggung jawab yang harus dijalani. Dalam hubungan yang membutuhkan kesabaran. Dalam pengampunan yang tidak mudah. Dalam doa yang belum terjawab. Dalam keadaan yang belum dapat kita mengerti. Dan dalam berbagai pergumulan kehidupan yang hanya Tuhan yang sungguh mengetahui. Namun hari ini kita diingatkan: Kita tidak diminta memikul salib seorang diri. Kristus berjalan bersama kita.
💭 Untuk direnungkan
Ketika kehidupan tidak berjalan sesuai dengan harapan, apakah kita masih mencari Tuhan, atau hanya mencari jalan keluar? Apakah kita lebih sering berdoa:
“Tuhan, ubahlah keadaan ini,” daripada: “Tuhan, ubahlah hatiku agar aku mampu menjalani keadaan ini bersama-Mu”?
Apa yang sedang menjadi salib dalam perjalanan hidup kita saat ini? Mungkinkah Tuhan sedang menggunakannya untuk membentuk hati kita menjadi lebih sabar, lebih rendah hati, lebih percaya, dan lebih dekat kepada-Nya?
🙏 Tanggapan kepada Tuhan
Tuhan Yesus, hari ini kami belajar bahwa mengikuti-Mu bukan berarti kami akan selalu mendapatkan jalan yang mudah. Ada saat ketika kami harus berjalan melalui jalan yang belum kami pahami. Ada saat ketika doa kami belum terjawab seperti yang kami harapkan. Ada saat ketika kami harus memikul salib. Pada saat seperti itu, ajarlah kami untuk tidak menjauh dari-Mu. Baharuilah hati dan pikiran kami agar kami mampu melihat kehidupan bukan hanya menurut kehendak kami, tetapi menurut kehendak-Mu. Ketika kami lemah, kuatkanlah kami. Ketika kami takut, teguhkanlah iman kami. Ketika kami tidak mengerti, ajarlah kami untuk tetap percaya. Dan ketika kami harus memikul salib, ingatkanlah kami bahwa Engkau tidak pernah meninggalkan kami. Tuhan Yesus, kami tidak meminta agar perjalanan kami selalu mudah. Kami hanya memohon: berjalanlah bersama kami. Sebab bersama-Mu, kami percaya bahwa setiap perjalanan, bahkan yang penuh salib sekalipun, dapat menjadi jalan menuju kehidupan.
Amin.
🌿 Langkah hari ini
Ketika menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan, jangan terburu-buru bertanya: “Mengapa Tuhan membiarkan ini terjadi?” Cobalah berhenti sejenak dan berdoa:
“Tuhan Yesus, Engkau berjalan bersamaku. Apa yang Engkau kehendaki agar kulakukan hari ini?” Kemudian lakukan satu hal kecil dengan kasih, kesabaran, dan iman. Teruslah berjalan. Tuhan ada di sana.
✨ Penutup Jurnal Emaus
Perjalanan menuju Emaus mengajarkan kita bahwa terkadang Tuhan berjalan sangat dekat dengan kita, tetapi kita belum menyadarinya. Barangkali demikian juga dengan perjalanan hidup kita. Di tengah pergumulan, Tuhan hadir. Di tengah penantian, Tuhan hadir. Di tengah salib, Tuhan hadir. Semoga setiap kali kita membuka Sabda-Nya, hati kita semakin mampu mengenali-Nya dan berkata:
“Bukankah hati kita berkobar-kobar ketika Ia berbicara kepada kita di tengah jalan?” (Lukas 24:32)
